Rabu, 14 Juli 2010

Masa Orientasi Bukanlah Ajang 'Kekerasan'

Setiap tahun, kita selalu mendengar istilah tahun ajaran baru. Bagi teman-teman yang menaiki jenjang SMP, SMA maupun Perkuliahan, kita akan dihadapkan pada sebuah kehidupan baru. Kita akan bertemu dengan teman-teman kita yang tingkatannya di atas kita. Pertama kali kita menginjakkan kaki di sekolah atau tempat menimba ilmu yang baru, kita akan dihadapkan dengan atau 'Masa Orientasi'.

MOS atau Masa Orientasi Siswa adalah suatu pengenalan yang diberikan kepada siswa-siswa tahun ajaran baru yang menduduki jenjang pendidikan yang baru, baik seorang siswa/siswi SD yang menduduki jenjang SMP, seorang siswa/siswi SMP yang menduduki jenjang SMA hingga siswa siswa/siswi SMA yang menduduki jenjang perkuliahan, baik itu Diploma ataupun Sarjana. Pada masa perkuliahan, dikenal dengan nama 'OSPEK' atau 'Orientasi Perkuliahan'

MOS berarti mengenalkan sesuatu yang baru kepada calon-calon siswa/siswi baru yang menduduki jenjang yang baru, baik itu lingkungan sekolah, guru-guru yang akan menjadi pembimbing, ruang kelas dan lain sebagainya. Para siswa/siswi baru akan diajarkan mengenai bagaimana caranya beradaptasi terhadap lingkungan sekolah yang baru. Tidak jauh berbeda dengan dunia perkuliahan, para calon mahasiswa akan diperkenalkan mengenai 'Kehidupan Kampus'.

Ironisnya, banyak pelaksana-pelaksana pendidikan yang kurang memperhatikan Masa Orientasi yang seringkali 'disalahgunakan'. Tidak sedikit sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang masih menanamkan 'militerisasi' kepada setiap calon didikannya yang baru. Mereka 'menggembleng' calon-calon siswa atau mahasiswa baru tersebut secara berlebihan, dimana hukuman fisik kerap kali diterapkan. Teriakan dan bentakan dari kakak-kakak senior tidak luput dalam makanan sehari-hari calon-calon didikan baru tersebut.

Lalu, apa hanya itu saja? Apakah hanya sebatas kekerasan fisik dan mental saja? ternyata tidak! Kostum atau pakaian-pakaian yang diwajibkan mengenai didikan-didikan baru tersebut juga diatur sedemikian anehnya sehingga tidak mencerminkan bahwa mereka bukanlah calon terdidik, melainkan calon yang akan menjadi bahan ejekan di lingkungan baru mereka.

Lalu apa yang dapat dipetik dari manfaat positif dari kegiatan ini? Apa yang diajarkan kakak-kakak senior kepada adik-adiknya? Kekerasan? Balas dendam? Sok jagoan? Itukah didikan kepada junior-juniornya?

Tidak semestinya mereka melakukan hal-hal tersebut dan tidak semestinya mereka diperlakukan seperti itu. Tidakkah hal-hal tersebut termasuk ke dalam kekerasan?

Untuk itu, saya sangat berharap mengenai adanya perubahan, adanya sesuatu yang bisa memperbaiki kualitas pendidikan kita. Sesuatu yang mestinya bisa kita ubah, karena kitalah yang terlibat dalam dunia pendidikan. Mulailah menanamkan sifat untuk saling menghargai dan saling menyayangi. Janganlah ada rasa balas dendam diantara kakak senior dan junior, Marilah ciptakan kehidupan lingkungan kita yang kompak dan bersahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar