Kamis, 15 Juli 2010

Benahi Indonesia Kita

Indonesia. Negara yang merupakan sebuah kesatuan atas pulau-pulau kecil maupun besar yang didalamnya dihuni oleh penduduk-penduduk yang memiliki suku, agama dan ras yang berbeda-beda. Sebuah fenomena yang jarang ditemukan di negara lain. Perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian menjadi nilai lebih dari sebuah Negara kesatuan Republik Indonesia yang sampai saat ini masih terjaga. Sehingga tidaklah salah kita mewarisi nilai-nilai kebudayaan yang positif yang terkandung di dalamnya.

Kekayaan alam yang berlimpah ruah, dimana tongkat kayu dan batu menjadi tanaman, sudah tidak diragukan lagi karena di dalam negeri yang subur ini, segalanya bisa tumbuh. Sudah sepantasnya NKRI ini menjadi negeri yang paling membanggakan karena potensinya yang besar yang belum tentu dimiliki oleh negara lain. Sumber daya alam yang berlimpah sudah semestinya memberikan kecukupan bagi penduduk-penduduk di dalamnya. Bahkan, banyaknya sumber daya alam tersebut dapat meningkatkan devisa negara bila dikelola dengan semestinya.

Ironinya, apa yang baru saja dikatakan di atas tidaklah semua benar. Negeri kita memang berlimpah akan sumber daya alamnya. Tetapi tidak bijak dalam mengolah dan memanfaatkannya. Negeri kita memang memiliki kebudayaan yang beraneka-ragam. Sayang, keanekaragaman tersebut begitu saja tidak diperhatikan sehingga kita baru bisa bertindak jika sudah ada pihak dari luar yang asal-klaim. Nilai-nilai moral yang tertanam pada diri adik-adik, kakak-kakak, maupun siapa saja sudah tidak setebal yang dahulu.

Deforestasi hampir dapat ditemukan dimana saja. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sudah tidak banyak ditemukan tempat yang masih terjaga lingkungannya. Kalaupun ada, itu merupakan pengelolaan yang bersifat subjektif dan untuk golongan tertentu. Atau harus dijaga dengan inisiatif yang tinggi yang sifatnya cenderung temporer. Bila hal ini masih terjadi, bisa-bisa Indonesia tidak lagi menyimpan hutan yang menjadi paru-paru dunia.

Kebijakan-kebijakan yang tidak konsisten dan tidak sistematis juga tidak luput untuk dievaluasi. Pasalnya, hampir setiap kebijakan yang pernah dibuat dalam hal membangun lingkungan yang baik masih mengalami jalan buntu. Belum lagi makin meningkatnya teori-teori pemberdayaan sumber daya manusia melalui dibangunnya lahan-lahan pekerjaan yang berupa beton-beton yang nyaris melewati peraturan pemerintah yang mewajibkan untuk menyisakan 20% lahan bangunan untuk ditanami area hijau.

Sedikit melihat sisi kemanusiaan, kesemrawutan hampir terjadi dimana-mana. Di kampung-kampung pinggiran kota maupun di jalanan yang setiap harinya dilalui oleh pejalan kaki yang tidak kurang dari 1000 orang per meter persegi. Pemukiman-pemukiman tak berIMB menambah daftar panjang kesemrawutan. Jika kita sedikit bergeser ke jalan, tak jarang ditemukan kemacetan dan pengendara yang saling mau menang sendiri dalam berkendara. Angkutan-angkutan kota (angkot) yang nge'Tem' juga harus bertanggung jawab atas kesemrawutan lalulintas begitu pun dengan para penumpang yang meminta supir angkkot untuk turun di sembarang tempat dan memicu kemacetan.

Oke, kalau terus dilanjutkan mungkin gak ade matinye. Sudah saatnya kita benahi apa yang bisa kita benahi. mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang paling kecil hingga seterusnya. Jadilah sebuah perubahan sehingga tidak ada lagi yang semrawut dan bikin ribut. Jadikanlah setiap diri kita bertoleransi, saling menghargai dan terbuka. Mulailah memperbaiki kinerja SDM kita. Mulailah untuk bangun pagi, menikmati dinginnya embun pagi dan langit biru yang memutih. Tanamkan disipilin dan berjanjilah bahwa hari ini saya akan membenahi Indonesia!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar